MEDIA MATARAKYATNEWS || MALONGUANE, TALAUD – Nama Institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI) di coreng oleh beberapa Oknum anggotanya. Pasalnya beberapa Oknum anggota TNI Diduga melakukan penganiayaan terhadap enam warga dan salah satunya Guru SMK di Talaud bernama Berkam Saweduling. Peristiwa naas itu terjadi di Melonguane, Talaud, Sulawesi Utara, Jumat (23/1/2026) dini hari,
Imbas dari kejadian tersebut, Massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Adat Melonguane menggelar aksi demonstrasi pasca peristiwa penganiayaan yang dilakukan beberapa oknum anggota TNI Angkatan Laut terhadap enam warga Melonguane.
Demo berlangsung di area Markas Komando Pangkalan TNI AL (Mako Lanal) Melonguane, Talaud, Sulawesi Utara, Jumat (23/1/2026) siang.
Salah satu pimpinan aksi demo bernama Bastian, menyampaikan beberapa tuntutan, diantaranya meminta Presiden Prabowo dan Panglima TNI menindak tegas Oknum TNI AL sebagai pelaku penganiayaa terhadap Saudara Berkam Sawiduling, Putra Asli Melongguane. dan tuntutan kedua, massa meminta agar Danlanal Melonguane dicopot dari jabatannya apabila oknum anggota TNI AL yang melakukan penganiayaan tidak ditindak tegas. sedangkan untuk tuntutan ketiga Masa aksi meminta kapal angkatan laut di Pelabuhan Laut Melongguane dilepas sementara dari wilayah Kedaulatan Melongguane, sampai kami mendapatkan jawaban dan kepastian hukum terhadap Oknum Pelaku penganiayaan,” ujar demonstran.
Pada kesempatan itu, aksi unjuk rasa juga turut menyampaikan tuntutan pihak keluarga korban terkait kasus ini.
“Terkait tuntutan keluarga korban. Pertama, kami akan terus menuntut komitmen Danlanal untuk menindaki pelaku penganiayaan. Kami mendesak proses hukum para pelaku berjalan transparan,” ujar salah anggota masa aksi.
Mereka juga meminta tanggungjawab moral dari para pelaku penganiayaan terhadap korban.
Kronologi
Peristiwa bermula saat Berkam Sawiduling sedang memancing di pelabuhan.
Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang berteriak-teriak dalam keadaan diduga mabuk.
Saat didekati, korban menyadari bahwa mereka merupakan oknum anggota Lanal Melonguane.
Merasa resah, korban menegur para oknum tersebut sambil merekam menggunakan ponsel.
“Karena saya merekam, mereka langsung memukul saya. Saya dikeroyok sampai jatuh, tapi tetap dipukul dalam posisi terjatuh,” ungkap Korban.
Sementara itu, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Melongguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, memberikan keterangan resmi terkait dugaan tindak penganiayaan yang melibatkan sejumlah oknum anggota terhadap warga sipil.
Letkol Laut (P) Yogie Kuswara menjelaskan bahwa pihak Lanal Melongguane telah melakukan mediasi dengan keluarga para korban dan permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik.
“Sudah ada mediasi antara pihak Lanal dan keluarga korban, dan semuanya telah terselesaikan dengan baik,” ujar Yogie Kuswara
Yogie menegaskan, pihak Lanal Melongguane siap bertanggung jawab atas kondisi para korban yang terdampak dalam peristiwa tersebut.
Selain itu, Danlanal memastikan bahwa oknum prajurit yang diduga terlibat dalam tindakan penganiayaan telah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan TNI.
“Para pelaku yang diduga melakukan penganiayaan sudah diproses di pengadilan militer, sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.
Dikesempatan yang sama Tokoh Adat Melonguane Godfried Timpua, membeberkan tuntutan masyarakat terhadap pihak Pos Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.
“Kita itu menuntut pelaku penganiayaan ini, pelaku pengeroyokan ini, itu diproses secara hukum dan harus transparan kepada masyarakat,” tegasnya dikutip Tribun Manado, pada Jumat (23/1/2026) malam.
Jangan sampai, kata dia, karena mereka anggota lantas dilindungi oleh institusinya.
“Jangan sampai persoalan ini cuma selesai dan hilang begitu saja. Kita akan tuntut itu. Sampai di manapun,” terang dia.
Sampai berita ini diturunkan, terpantau demo sempat diwarnai adu argumen. Terlihat Massa demonstran yang nampak memakai ikat kepala warna merah merengsek masuk ke dalam markas Lanal Melonguane.
Aparat gabungan TNI-Polri berupaya meredam kemarahan massa yang semakin tak terkendal, namun massa yang mengamuk terus masuk hingga ke dalam Mako.
Terpantau di media sosial yang di posting akun bernama Metris Metris; Para demonstran menyaksikan langsung para pelaku penganiayaan berada di balik jeruji besi, sedang dalam proses hukum.
Salah satu warga menyampaikan pendapatnya kepada para pelaku.
“Sangat menyesal, Negara kirim kamu ke tanah prodisa untuk melindungi, tidak untuk menjadi penindak kekerasan memalukan institusi. Catat. Itu bahasa Negara”. Negara kirim anda di tempat ini karena ini beranda Republik Indonesia.
VT







