MEDIA MATARAKYATNEWS || JAKARTA – Program pelatihan militer untuk calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menuai kritik tajam dari netizen dan pengamat.
Publik menilai pendidikan ala militer tidak relevan dengan tugas mengelola lembaga ekonomi rakyat, memicu gelombang parodi di media sosial, dan memunculkan perdebatan terkait urgensinya.
Banyak pihak menyoroti bahwa manajer koperasi lebih membutuhkan keterampilan manajemen stok, keuangan, pelayanan pelanggan, dan digitalisasi. Pelatihan fisik dan semi-militer dinilai tidak menjawab kebutuhan teknis pengelolaan institusi ekonomi. Ketidaksesuaian keahlian.
Di berbagai platform seperti Instagram, warganet banyak memparodikan gaya bicara dan respons calon manajer yang terdengar kaku, menyamakan tugas menjaga toko atau koperasi dengan menjaga perbatasan negara.
Berbagai kalangan menilai kebijakan wajib militer bagi pengelola koperasi sebagai bentuk penggerusan ruang sipil, bahkan ada yang menjadikannya bahan lelucon karena dianggap sebagai fenomena yang tidak lazim.
Sementara itu, Pengamat militer Jaleswari Pramodhawardhani mempertanyakan kebijakan mengikutsertakan 30.000 calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dalam Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).
“Pertanyaan besar saya adalah mengapa kawan-kawan TNI ini, militer ini memasuki wilayah-wilayah, ruang-ruang sipil? Kalau untuk koperasi kenapa enggak diserahkan kepada masyarakat sipil?” kata Jaleswari ditemui wartawan usai peluncuran buku “Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer” di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Menurutnya urusan tata kelola koperasi sepatutnya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sipil, mengingat sektor tersebut membutuhkan keahlian manajemen spesifik. Calon pengelola koperasi perlu dilatih oleh sipil yang mengerti koperasi, bukan oleh tentara.Sumber:
“Padahal untuk koperasi itu juga pengetahuan yang harus dimiliki dengan keahlian tertentu, manajemennya seperti apa,” ujarnya.
Perempuan yang disapa Dhani itu menekankan bahwa mengelola sebuah koperasi dan menyiapkan SDM di dalamnya tidak bisa disamakan dengan latihan baris-berbaris.
Di tengah keriuhan program, insiden tragis kemudian terjadi saat rangkaian Latihan Dasar Militer (Latsarmil). Dua orang peserta yang dipersiapkan menjadi calon pengelola Koperasi Merah Putih dilaporkan meninggal dunia. Kabar ini semakin memperluas perhatian publik terhadap jalannya program tersebut.
Menanggapi berbagai kritikan dan insiden yang terjadi, pemerintah menyatakan berbelasungkawa mendalam atas wafatnya dua peserta tersebut. Meski demikian, pihak pemerintah (seperti perwakilan dari Wamensesneg) memastikan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih akan tetap berlanjut, dan insiden-insiden yang terjadi akan ditangani serta dipisahkan dari evaluasi keberlanjutan program.







