Dewan Adat Papua Soroti Pelanggaran Hak Politik dan Konflik Agraria di Papua Tengah

MEDIA MATARAKYATNEWS |Nabire Papua Tengah –  Ketua Dewan Adat Papua Korwil Mee Pago, Okto Pekey, menyoroti masih seringnya hak politik masyarakat adat diabaikan dalam proses demokrasi di Papua Tengah.

Hal ini disampaikannya dalam workshop yang dimoderatori Hengki Yeimo bertajuk “Memperkuat Hak Politik Masyarakat Adat di Papua Tengah” pada Festival Media Se-Tanah Papua Perdana di Kabupaten Nabire, Kamis (15/1/2026).

“Seringkali hak pilih itu diabaikan. Mengapa terjadi demikian? Setelah pelaksanaan pemilu, masyarakat berperan sebagai penentu suara, tetapi tidak diberikan kesempatan menyatukan pikiran dan melakukan pemilihan sesuai hak nurani mereka,” ujar Okto.

Festival yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini berlangsung selama 3 hari, 13-15 Januari 2026, dan menghadirkan berbagai diskusi strategis terkait hak-hak masyarakat adat Papua.

Okto menekankan pentingnya kebebasan menyampaikan pendapat bagi masyarakat adat di Provinsi Papua Tengah. Menurutnya, aparat keamanan kerap membatasi ruangdemokrasi melalui pembubaran dan penangkapan saat masyarakat melakukan aksi protes atau demonstrasi.

“Persoalan seringkali ketika ada aksi protes atau demonstrasi yang dilakukan masyarakat kemudian dibatasi oleh aparat keamanan melalui pembubaran dan penangkapan. Padahal masyarakat punya hak menyampaikan pendapat,” tegasnya.

Ia mendesak agar ruang demokrasi diperluas untuk menampung aspirasi masyarakat adat yang selama ini merasa haknya dibatasi.
Ketua Dewan Adat Papua Korwil Mee Pago juga mengangkat isu konflik lahan yang melibatkan masyarakat adat. Ia menyatakan banyak masyarakat yang bergantung hidup dari tanah dan hasil hutan kini terancam oleh berbagai proyek ekstraktif.

“Ketika ada tambang-tambang, seringkali masyarakat menyampaikan protes karena di sanalah terjadi penghancuran sumber hidup mereka. Apalagi sekarang ada rencana proyek kelapa sawit di wilayah Provinsi Papua Tengah,” jelasnya.

Okto menegaskan bahwa apapun yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat harus dikoordinasikan dengan pemilik ulayat tanah. “Ini menjadi penting untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat adat,” tambahnya.

Mengapresiasi penyelenggaraan festival, Okto menilai kegiatan ini penting sebagai wadah penyampaian gagasan, terutama dalam membangun jurnalisme dan kebebasan pers di Papua.

“Festival ini menjadi kegiatan yang pertama kali dilakukan di Papua. Setelah mengikuti kegiatan seperti ini, banyak kita bisa terlibat dan menyampaikan ide-ide gagasan ke depan,” katanya.
Ia berharap festival serupa terus dilaksanakan di masa mendatang sebagai bagian dari upaya membangun demokrasi di Tanah Papua. “Festival kegiatan ini ke depan harus dilaksanakan karena ini bagaimana kita membangun demokrasi,” pungkas Okto.

Workshop ini menjadi salah satu dari rangkaian kegiatan Festival Media Se-Tanah Papua Perdana yang bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dan memperluas ruang demokrasi di Papua.

Red: matarakyatnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *