Yayasan Sekolah Bina Nusantara Batam Mouslim Binus Internasional School Batam Merayakan Hari Guru Nasional 25 November 2023 HGN Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar

KOTA BATAM KEPULAUAN RIAU || Media MatarakyatNews.com,28/11/2023 – Yayasan Sekolah Bina Nusantara Batam atau Moslim Binus Internasional School Batam(MBIS),para guru dan siswa siswi merayakan hari Guru Nasional, (HGN) dengan penuh keceriaan dan kegembiraan bersama.

Saat awak media HS Dotulong berjumpa dengan salah seorang guru di sekolah Bina Nusantara Batam atau Moslim Binus Internasional School Cambridge Batam mengatakan bahwa dulu sebelum dirinya jadi guru benar adanya seorang guru yang sangat besar dalam peran aktif untuk mendidik anak-anak siswa siswi menjadi yang terbaik.

Begitu juga dengan H S Dotulong mengatakan bahwa dirinya pun pernah mengalami menjadi murid dan guru besar pun pernah mengatakan seperti yang di kutip oleh H S Dotulong.

1. Figur Pak Guru, Ibu Guru, serta siswa dan siswi tampak dinamis dan ceria dalam menjalankan pembelajaran.

2. Pemanfaatan teknologi digambarkan dengan simbol-simbol WiFi, laptop, handphone. Serta aplikasi Zoom yang memiliki relevansi kuat sebagai alat penunjang kegiatan belajar mengajar.

3. Bentuk hati menggambarkan seluruh komponen pendidikan mulai dari guru, peserta didik, hingga orang tua yang bersinergi. Menciptakan semangat belajar yang merdeka dan penuh cinta guna memberikan hasil yang terbaik untuk dunia pendidikan di Indonesia.

Mengalir lembut, waktu membawa kita ke 25 November lagi. Sebuah tonggak, Hari Guru Nasional 2023. Di sanubari kita, terbersit pertanyaan: bagaimana nasib guru di era kecerdasan buatan (AI)?

Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional, berkata, “Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Mendahului sebagai contoh, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung.

Baca Juga  Mengenang Kepahlawanan Pejuang Laut, Pangkalan TNI AL Lanal Ranai Laksanakan Upacara Tabur Bunga Di Dermaga Posal Penagi

Di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kata-kata ini bermetamorfosis. AI bukan lagi mimpi. Tapi kenyataan yang menyelinap dalam setiap sudut kelas.

AI melukis wajah baru pendidikan. Siswa di pelosok desa dapat belajar dari guru yang berada ribuan kilometer jauhnya. Personalisasi pembelajaran, sebuah konsep yang dulu hanya khayalan, kini menjadi kenyataan. Setiap anak belajar sesuai dengan irama dan lagunya sendiri. Tapi, di balik kemegahan ini, tersembunyi tantangan: bagaimana kita mempertahankan esensi manusia dalam pendidikan?

Ruang Kelas Masa Depan
Adaptasi menjadi kata kunci. Guru harus tangkas dalam menari bersama irama teknologi. Menguasai materi pelajaran saja tak lagi cukup. Mereka harus menjadi navigator yang mahir dalam lautan digital yang luas ini. Namun, bukan berarti peran guru tergerus.

Seperti kata John Dewey, filsuf pendidikan, pengalaman dan refleksi adalah inti dari belajar. Guru, dalam kapasitas ini, jelas tidak tergantikan. Peluangnya? Guru bisa bertransformasi menjadi arsitek pengalaman belajar yang kaya. Menggunakan data untuk memahami kebutuhan setiap anak, membuat setiap interaksi tidak hanya tentang pengetahuan, tapi juga tentang memahami hati dan pikiran.

Guru, di masa AI, bukan hanya pengajar. Mereka adalah pelatih kehidupan, pembimbing emosional, penghubung antara manusia dan mesin. Di era di mana kreativitas dan empati menjadi mata uang baru, guru adalah bank sentralnya.

Baca Juga  Wajib Tau. Ini Sanksi Hukum PNS Main Judi Online/Offline

“Cakap, rasa, karsa” – tiga pilar Ki Hajar Dewantara – menjadi lebih relevan. AI mungkin mengatur aliran data dan informasi, tapi jiwa pendidikan, kehangatan belajar, tetap di tangan guru.

Perayaan Hari Guru Nasional ini seharusnya tidak hanya menjadi simbol penghargaan, tapi juga titik tolak refleksi dan adaptasi. Kita, sebagai masyarakat, harus berperan aktif. Menciptakan ekosistem yang mendukung guru dalam bersahabat dengan teknologi, bukan tertinggal di belakangnya.

Kita berdiri di ambang era baru. Era di mana guru bukan hanya pengajar, tapi juga penjaga keseimbangan antara kebijaksanaan manusia dan kecerdasan buatan. Mereka adalah jembatan antara pengetahuan masa lalu dan mimpi masa depan.

Dalam tiap goresan pena, setiap kata yang diucapkan, guru menanam benih masa depan. Di tangan mereka, generasi yang akan datang dibentuk. Di era AI ini, peran mereka semakin penting, semakin sentral.

Sebuah Ode untuk Guru di Masa AI
Marilah kita renungkan peran guru di masa depan. Mereka bukan sekedar penyebar pengetahuan, tapi pula penjaga api semangat dan empati. Di tangan mereka, AI bukan hanya alat, tapi juga kanvas di mana masa depan dicorat-coret.

Hari Guru Nasional 2023: sebuah momen untuk merayakan, merenungkan, dan merancang ulang peran guru di era AI. Sebuah era di mana guru dan teknologi saling melengkapi. Bukan bersaing.

Baca Juga  WKRI Sulut Peringati HUT Ke-100 Tahun. Diadakan di Pohon Kasih Kawasan Megamas Kota Manado

Sebuah masa depan di mana pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan. Tapi juga perjalanan memahami diri sendiri dan dunia sekitar.

Dengan semangat Ki Hajar Dewantara, marilah kita menyambut masa depan pendidikan dengan tangan terbuka. Karena di setiap tantangan ada peluang, dan di setiap perubahan ada harapan.

Ketika AI telah mengubah banyak aspek kehidupan, guru tetap menjadi simpul. Simpul yang menyatukan benang-benang pengetahuan dan kemanusiaan. Mereka bukan hanya pemberi pelajaran. Tapi juga pemberi inspirasi. Penyala api rasa ingin tahu, dan penguat kepercayaan diri siswa.

Hari Guru Nasional 2023 menjadi bukti bahwa, meski dunia berubah, nilai dan esensi pendidikan tetap abadi. Di tengah hiruk-pikuk teknologi, di sanalah hati pendidikan berdetak: di dalam kelas di mana guru dan siswa bertemu, berdialog, dan tumbuh bersama.

Dalam peringatan ini, kita bukan hanya menghormati guru, tapi juga menghormati masa depan. Masa depan di mana pendidikan menjadi lebih inklusif, adaptif, dan manusiawi. Masa depan di mana guru dan AI berdansa dalam harmoni. Mengiringi langkah-langkah cerdas generasi penerus.

Marilah rayakan Hari Guru Nasional 2023 dengan menggenggam erat tangan para guru, membisikkan terima kasih dan penghargaan. Karena mereka, lebih dari siapa pun. Mereka adalah penjaga api masa depan yang kita impikan.’

Redaksi – MatarakyatNews
Dotulong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *