Barapen Tandai Penerimaan Adat Peresmian Honai PAMAN Papua Tengah

MEDIA MATARAKYATNEWS |Nabire Papua Tengah – Tradisi adat Barapen menjadi penegasan utama penerimaan adat dalam peresmian Honai Perkumpulan Masyarakat Adat Nusantara (PAMAN) Provinsi Papua Tengah. Prosesi Barapen digelar usai peresmian Honai sebagai simbol sah dan diterimanya keberadaan Honai PAMAN oleh seluruh masyarakat adat Papua Tengah.

Kepala Suku sekaligus Ketua PAMAN Provinsi Papua Tengah, Ayub Wonda, S.AB, menegaskan bahwa Barapen bukan sekadar tradisi, melainkan simbol sakral yang menentukan diterima atau tidaknya suatu keputusan dan pembangunan secara adat.

“Barapen ini simbol dan ciri adat orang Papua. Kalau tidak Barapen, berarti belum diterima secara adat. Bahkan bisa dimaknai sebagai penolakan. Tetapi kalau lewat Barapen, berarti semua usulan, pembangunan, dan keputusan diterima sepenuhnya,” ujar Ayub Wonda.

Ia menjelaskan, pelaksanaan Barapen dalam rangka peresmian Honai PAMAN menjadi bukti bahwa Honai tersebut telah diterima secara resmi oleh adat Papua. Honai bukan hanya bangunan fisik, melainkan rumah bersama masyarakat adat yang harus disahkan melalui simbol adat agar memiliki legitimasi dan kekuatan budaya.

Menurut Ayub Wonda, Barapen juga menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat adat atas perhatian dan dukungan berbagai pihak, termasuk peran pemerintah pusat yang turut membantu dan mendukung keberadaan masyarakat adat di Papua Tengah.

“Karena ada bantuan dan perhatian, masyarakat adat merasa senang. Maka simbol penerimaannya harus Barapen. Ini tanda bahwa Honai PAMAN kami terima dengan hati terbuka,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa melalui Barapen tersebut, keberadaan Honai PAMAN sekaligus organisasi PAMAN dinyatakan sah dan resmi secara adat. Dengan prosesi Barapen, PAMAN tidak hanya berdiri secara administratif dan berbadan hukum, tetapi juga diakui sepenuhnya oleh tatanan adat Papua.

“Lewat simbol Barapen ini, peresmian Honai PAMAN sudah sah secara adat. Insya Allah, secara hukum dan adat, PAMAN diterima dan berjalan seiring,” tegasnya.

Prosesi Barapen ini menjadi puncak dan penutup rangkaian peresmian Honai PAMAN Provinsi Papua Tengah, sekaligus menegaskan bahwa setiap pembangunan dan kebijakan di tanah Papua harus berjalan selaras dengan nilai-nilai adat sebagai fondasi utama persatuan, penerimaan, dan kedamaian masyarakat Papua.

Red: MATARAKYATNEWS

JN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *