MEDIA MATARAKYATNEWS || JAKARTA – Pernyataan Prabowo Subianto yang melontarkan kata-kata kasar atau sindiran seperti “goblok” kepada pakar atau akademisi pengkritik dinilai tidak pantas dan berbahaya oleh pengamat politik. Sikap tersebut dikhawatirkan memicu kemunduran demokrasi serta mencerminkan kurangnya ruang bagi kritik objektif dalam pemerintahan.
Penggunaan kata kasar dari seorang kepala negara kepada kaum intelektual dinilai merendahkan budaya demokrasi dan dialog. Langkah ini dianggap berbahaya karena berisiko membangun iklim anti-kritik dan membatasi kebebasan berpendapat.
Alih-alih merespons kritik dengan adu data atau argumen rasional, penggunaan label negatif justru memperlihatkan keengganan rezim untuk menerima evaluasi publik.
Guru besar Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, menilai sebutan “Goblok” yang ditujukan. Kepada pakar bersifat merendahkan, bahkan melecehkan. secara tidak langsung, kata Sulistyowati, Pemerintah turut memproduksii masyarakat anti-sains yang tidak berpikir rasional.
Menurutnya, kritik dari pakar muncul akibat absennya lembaga seperti DPR, yang semestinya melakukan fungsi pengawasan.
“Kami yang melancarkan fungsi pengawasan dikatakan goblok. Buruk sekali negara kita,” kata Sulistyowati dikutip BBC
Ini bukan pertama kali Presiden melontarkan sindiran serta tuduhan kepada pihak-pihak yang mengkritik program atau kebijakannya.
Selama hampir dua tahun memimpin negara, Prabowo setidaknya sudah empat kali mengucapkan makian, antara lain “ndasmu”, “antek asing”, “londo ireng”, dan yang terakhir, “goblok”.
Apa yang dilakukan Prabowo ini dinilai menunjukkan gejala otoritarian, yang melarang perbedaan pandangan, menurut pakar politik di lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal.
“Ini yang menurut saya berbahaya. Iklim demokrasi, yang semua memerlukan transparansi dan akuntabilitas, kritik diperlukan untuk memperbaiki kebijakan yang tidak tepat sasaran,” kata Nicky.
Di sisi lain, pakar politik, Bawono Kumoro, menilai meskipun Prabowo merespons pengkritiknya dengan gaya bicara “blak-blakan”, Presiden tidak melakukan hal-hal represif terhadap mereka.
Namun, Bawono juga tak membenarkan umpatan maupun sindiran yang dilontarkan Prabowo. Sebab, bagaimanapun hal tersebut bakal memunculkan sentimen negatif di publik.
Hingga berita ini dinaikan, Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah terkait respon para pakar ini.









