MEDIA MATARAKYATNEWS || JAKARTA – Program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi sorotan publik akibat menelan anggaran jumbo sekitar 1.6 triliun dan merenggut nyawa lima pesertanya.
Anggaran miliaran tersebut digunakan untuk melatih sekitar 35.476 calon pengelola Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih melalui program Komponen Cadangan (Komcad).
Anggota Komisi I DPR Fraksi PDI-P Mayjen TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin mengungkap bahwa Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menelan anggaran hingga Rp.30.000.000 per orang.
Menurut Hasanuddin, jumlah itu menelan porsi terbesar dari keseluruhan anggaran pelatihan sebesar Rp45 juta. Sebab, hanya Rp15 juta yang dialokasikan untuk substansi pelatihan selama 15 hari.
“Total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp45 juta per orang. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” kata Hasanuddin dalam keterangannya, Senin (29/6).
Menurutnya, Jika Latsarmil ini ditiadakan, negara bisa menghemat anggaran lebih dari 1 triliun untuk total 35.476 peserta pelatihan calon manajer Kopdes seluruh Indonesia.
Jika anggota menejer koperasi desa dianggarkan 45 juta perorang maka dana yang digelontorkan pemerintah capai 1.596.375.000.000 atau jika dibulatkan 1.6 triliun demi bisa latihan menembak dan yel-yel.
Hasanuddin menganggap pelatihan Latsarmil bukan prioritas. Sebab, tugas utama manajer koperasi adalah mengelola organisasi dan mengembangkan usaha, sehingga materi pelatihan seharusnya berorientasi pada kompetensi profesional, bukan latihan fisik atau kemiliteran.
“Kita membutuhkan manajer koperasi yang memiliki kemampuan mengelola bisnis, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pelatihan harus benar-benar relevan dengan kebutuhan pekerjaan mereka,” katanya.
Politikus PDIP itu berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain pelatihan agar lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran. Dia ingin agar program tersebut bisa lebih efisien tanpa membebani anggaran secara berlebihan













