MEDIA MATARAKYATNEWS || JAKARTA – Pemerintah dinilai perlu mengubah strategi komunikasi di tengah meningkatnya kritik dan aksi unjuk rasa. gejolak yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipicu oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga dipengaruhi oleh cara komunikasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, melontarkan kritik tajam terhadap pola komunikasi Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi pemerintah saat ini bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga cara Presiden berkomunikasi dengan masyarakat. Pangi bahkan menyarankan Prabowo mengurangi aktivitas pidato dalam beberapa waktu kedepan.
“Menurut saya, enggak usah Prabowo pidato dulu, 1-2 bulan ini pasti mereda negara ini. Yakin sama saya, berhenti Pak Prabowo itu pidato dua bulan ini.”
“Jangankan dua bulan, seminggu ini berhenti pidato, enggak ada orang demo lagi,” ungkap Pangi pada Jumat (11/6/2026).
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pidato Prabowo yang sering dianggap liar dan tidak terarah justru memicu kemarahan publik, sehingga menghentikan pidato dapat membantu meredam sentimen negatif dan gejolak di masyarakat. “Pidato yang liar dan tidak terarah memicu kemarahan rakyat”.
Pangi menyebut kebijakan ekonomi langsung lebih efektif meredam keresahan masyarakat. Ia menilai Jokowi lebih berhasil menjaga sentimen publik dibanding Prabowo.
“Prestasi negara itu sejauh mana mereka punya kemampuan untuk menggembirakan hati rakyat. Menjaga perasaan rakyat itu bagian dari kinerja,” ujarnya.
Pangi menilai seorang pemimpin perlu mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kondisi masyarakat. Sebab, komunikasi yang tidak tepat berpotensi mengaburkan capaian pemerintah dan memunculkan resistensi yang lebih besar di tengah publik.
Menurutnya, prestasi terbaik pemerintahan adalah kemampuan membuat rakyat tenang dan merasa diperhatikan.
Berikut poin penting terkait penilaian terhadap gaya komunikasi Presiden menurut Pangi Syarwi Chaniago:
Pemicu Keresahan:
Pidato Prabowo dinilai lebih banyak dikuasai emosi dan tidak terarah, yang berpotensi menjadi bumerang dan memperkeruh suasana, terutama di tengah berbagai aksi unjuk rasa terkait ekonomi.
Keberhasilan Komunikasi:
Ia menilai pendahulu Prabowo, Joko Widodo, lebih berhasil dalam menjaga sentimen publik dan menenangkan masyarakat.
Prioritas Kebijakan:
Pangi menekankan bahwa meredam gejolak tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika. Kebijakan ekonomi langsung yang menyentuh kebutuhan rakyat jauh lebih efektif meredam keresahan dibandingkan pidato yang menggebu-gebu







